Senin, 01 Juni 2015

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) PADA TANAMAN JAHE



PAPER
EPIDEMIOLOGI PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) PADA TANAMAN JAHE
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu penyakit tanaman)

Dosen Pembimbing :
Ir. Wayan Suniti, MS.
Description: F:\logo-unud.gif
Oleh  :
1.      Dwi Cahya Halim                     1305105048
2.      Isnaini                                       1305105053
3.      Umu Sa’adah                            1305105054
4.      Lilik Handayani                        1305105055
5.      Erna Ismawati                           1305105072

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan paper dengan judul “EPIDEMIOLOGI PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) PADA TANAMAN JAHE” untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Ilmu Penyakit Tumbuhan.
Semoga paper sederhana ini dapat dipahami dan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila ada kesalahan baik kata maupun penulisan yang kurang berkenan karena kami menyadari sepenuhnya bahwa terdapat kekurangan dan jauh dari yang kami harapkan. Untuk itu kami harapkan ada kritik, saran dan usulan demi perbaikan masa yang akan datang, mengingat tidak ada suatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun kami memohon kritik dan saran yang membangun demi masa depan.















DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………    
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………..
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………
A.    Latar Belakang…………………………………………………………………..
B.     Rumusan Masalah……………………………………………………………….
C.     Tujuan…………………………………………………………………………...
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………
2.1. Gejala Penyakit Layu Bakteri………………………………………………………
2.2. Patogen dan Diagnosis Penyakit Layu Bakteri…………………………………….
2.3. Tumbuhan Inang Patogen………………………………………………………….
2.4. Epidemiologi Penyakit…………………..………………………………………….
2.5. Interaksi Dengan Nematoda Dan Lalat Rimpang………………………………….
2.6. Penanggulanan Penyakit Layu Bakteri…………………………………………….
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………
3.1. Kesimpulan………………………………………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….










BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Ralstonia solanacearum merupakan bakteri patogen tular tanah yang menjadi faktor pembatas utama dalam produksi berbagai jenis tanaman di dunia. Bakteri ini tersebar luas di daerah tropis, sub tropis, dan beberapa daerah hangat lainnya. Spesies ini juga memiliki kisaran inang luas dan dapat menginfeksi ratusan spesies pada banyak famili tanaman yang mempunyai arti penting ekonomi (Olson, 2005 dalam Anonim, 2010). Berdasarkan kisaran inangnya, R. solanacearum dikelompokkan menjadi 5 ras. Ras 1 menyerang tanaman tembakau, tomat dan famili solanaceae lainnya, ras 2 menyerang tanaman pisang, ras 3 menyerang tanaman kentang, ras 4 menyerang tanaman jahe, dan ras 5 menyerang tanaman mulberry (Danny dan Hayward, 2001 dalam Anonim, 2010).
R. solanacearum adalah spesies yang sangat kompleks. Hal ini disebabkan oleh variabilitas genetiknya yang luas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat, sehingga di alam dijumpai berbagai strain R. solanacearum dengan ciri yang sangat beragam. Ditinjau dari segi morfologi dan fisiologinya, R. solanacearum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan ukuran 0,5-0,7 x 1,5-2,5 μm, berflagela, bersifat aerobik, tidak berkapsula, serta membentuk koloni berlendir berwarna putih (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2003 dalam Anonim, 2010). Bakteri ini menginfeksi akar tanaman melalui luka yang terjadi secara tidak langsung pada waktu proses pemindahan tanaman maupun luka akibat tusukan nematoda akar, dan secara langsung masuk ke dalam bulu akar/akar yang sangat muda dengan melarut dinding sel. Infeksi secara langsung lebih banyak terjadi jika populasi bakteri di tanah terdapat dalam jumlah yang tinggi (Semangun, 1988 dalam Anonim 2010). R. solanacearum merupakan patogen tular tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996).
Gejala awal yang ditimbulkan pada tanaman yang terserang bakteri ini adalah tanaman mulai layu. Kemudian menjalar ke daun bagian bawah. Gejala yang lebih lanjut : seluruh tanaman layu, daum menguning sampai coklat kehitam-hitaman, dan akhirnya tanaman mati. Serangan pada umbi menimbulkan gejala dari luar tampak bercak-bercak kehitam-hitaman, terdapat lelehan putih keruh (massa bakteri) yang keluar dari mata tunas atau ujung stolon. Adanya daun muda pada pucuk dan daun tua tanaman akan menjadi layu, daun bagian bawah menguning merupakan ciri khas gejala penyakit layu bakteri (Kurniawan, 2010).

B.     Rumusan masalah
1.      Bagaimana gejala pada penyakit layu bakteri?
2.      Bagaimana diagnosis penyakit layu bakteri ?
3.      Bagaimana epidemiologi penyakit layu bakteri?
4.      Bagaimana pencegahan penyakit layu bakteri pada tanaman jahe ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui gejala penyakit layu bakteri pada tanaman jahe
2.      Untuk mengetahui diagnosis penyakit layu bakteri
3.      Untuk mengetahui epidemiologi penyakit layu bakteri
4.      Untuk mengetahui bagaimana pencegahan penyakit layu bakteri pada tanaman jahe.










BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Gejala Penyakit Layu Bakteri
Penyakit layu bakteri sering diketemukan pada pertanaman jahe terutama di daerah tropis dan sub tropis yang beriklim lembab. Di Indonesia serangan penyakit tersebut dapat menyebabkan kehilangan hasil rimpang jahe sampai 90%. Oleh karena itu penyakit layu bakteri merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya tanaman jahe.
Pada umumnya gejala penyakit mulai muncul pada saat tanaman berumur 3 atau 4 bulan. Gejala penyakit diawali dengan terjadinya daun-daun yang menguning dan menggulung. Gejala menguning pada daun tersebut pada umumnya dimulai dari bagian tepi dan berkembang keseluruh helaian daun (Gambar 1A). Selanjutnya seluruh bagian daun menjadi kuning, layu, kering, dan tanaman menjadi mati. Pada bagian pangkal batang yang sakit terlihat gejala busuk kebasahan ”water soaked”. Pada batang yang sakit sering terlihat adanya garis-garis membujur yang berwarna hitam atau abu-abu yang merupakan jaringan yang rusak. Tanaman yang sakit batangnya akan mudah dicabut dan dilepas dari bagian rimpangnya. Apabila batang ditekan, dari penampang melintangnya akan terlihat adanya eksudat bakteri yang keluar yang berwarna putih susu yang baunya khas sangat menyengat
2.2. Pathogen dan Diagnosis Penyakit
Penyebab penyakit layu pada tanaman jahe adalah bakteri R. solanacearum. Menurut Hayward (1986), R. solanacearum yang menyerang tanaman jahe tergolong dalam biovar 3 atau 4. Namun yang menyerang jahe di Malaysia tergolong dalam biovar 1 (Abdullah, 1982) Menurut Supriadi (1994), R. solanacearum yang menyerang tanaman jahe di Indoneisa termasuk dalam biovar 3 dan ras 4. Di Australia, R. solanacearum biovar 4 pada umumnya menyebabkan kerusakan yang parah dan berkembang sangat cepat, sedangkan biovar 3 umumnya menyebabkan gejala kerusakan lebih ringan. Menurut Hayward et al. (1967) dan Pegg and Moffett (1971), R. solanacearum biovar 3 jarang menyerang tanaman jahe.
Di lapangan, penyakit layu bakteri mudah diketahui dengan cara memotong batang tanaman yang terinfeksi dan menekan penampang batangnya. Adanya eksudat bakteri berupa cairan yang berwarna putih susu dan berbau khas yang keluar dari permukaan potongan batang menandakan tanaman sudah terserang layu bakteri. Selain itu, potongan batang juga dapat dimasukkan ke dalam air di dalam gelas transparan. Adanya aliran eksudat bakteri yang keluar dari penampang melintang batang menandakan tanaman sudah terinfeksi layu bakteri. Di laboratorium penyakit layu bakteri dapat dideteksi baik dengan metode konvensional yaitu mengisolasi bakteri pada media agar, maupun secara serologi dengan teknik ELISA menggunakan antiserum khusus (Robinson 1993). Metode ini dapat mendeteksi R solanacearum dalam ekstrak tanaman dan tanah. Populasi bakteri terendah yang dapat dideteksi dengan metode ELISA yaitu 10 4 sel/ ml ekstrak tanaman atau tanah. Cara ini lebih praktis dibanding dengan cara konvensional, karena metoda ELISA dapat menguji banyak sampel dalam waktu yang lebih singkat. Deteksi patogen juga dapat dilakukan secara molekuler. Cara tersebut lebih cepat dan akurat, namun biayanya cukup mahal dan memerlukan tenaga ahli yang berpengalaman.
2.3. Tumbuhan Inang Patogen
R. solanacearum yang menyerang jahe mempunyai kisaran inang yang relatif terbatas. Hasil pengujian inokulasi secara buatan yang dilakukan di Filipina membuktikan bahwa isolat R. solanacearum asal jahe virulen terhadap tanaman kentang dan terung, namun lemah virulensinya terhadap tomat. Di Malaysia, isolat R. solanacearum asal jahe kurang virulen terhadap tanaman tomat, tembakau, dan kacang tanah. Sementara isolat R. solanacearum asal tomat menimbulkan gejala khas pada tanaman tomat, tembakau, kacang tanah, dan jahe. Hasil penelitian di rumah kaca dan pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa R. solanacearum asal jahe di Indonesia mempunyai beberapa inang, di antaranya adalah temu mangga (Curcuma mangga), temu putih (Z. cassumunar), tomat, terung, dan beberapa jenis gulma seperti babadotan (Ageratum sp.), meniran (Phylanthus niruri), Commelina sp., nanangkaan (Euphobia hirta), Spigelia anthelmia, Erechtites sp., ceplukan (Physalis angulata) dan Emmilia sp. Gulma krokot (Portulaca oleraceae) juga merupakan inang dari R. solanacearum namun tanaman yang terinfeksi kadang tidak menunjukkan gejala layu. Sementara isolat R. solanacearum asal jahe tidak virulen terhadap kacang tanah, cabe kriting, pisang, dan nilam.

2.4. Epidemiologi Penyakit
Penyakit layu bakteri pertama kali dilaporkan oleh Orian pada tahun 1953 di Mauritania. Selanjutnya penyakit tersebut juga ditemukan di beberapa Negara di Asia, Australia, dan Afrika seperti di China, Filipina, Hawai, India, Indonesia, Malaysia, dan Thailand (Hayward 1986).
Di Indonesia penyakit layu pertamakali dilaporkan pada tahun 1971 di daerah Kuningan, Jawa Barat. Selanjutnya penyakit juga dilaporkan ada di daerah lain di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Utara.
R. solanacearum merupakan patogen tular tanah. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama di dalam tanah. Penyebaran penyakit di dalam kebun dapat terjadi melalui tanah, akar, air, alat-alat pertanian, hewan, dan pekerja di lapangan. Sementara penyebaran jarak jauh dapat terjadi terutama melalui bibit rimpang yang telah terinfeksi. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi kemampuan bertahan dari R. solanacearum. Kelembaban tanah yang tinggi dapat meningkatkan populasi bakteri. Sementara kandungan bahan organik tanah yang tinggi akan mengurangi populasinya demikian juga kondisi temperatur yang tinggi. Selain itu adanya tanaman inang pengganti sangat berpengaruh terhadap kemampuan bertahan hidup dari R. solanacearum.
2.5. Interaksi Dengan Nematoda Dan Lalat Rimpang
R. solanacearum sering berasosiasi dengan nematoda. Serangan penyakit layu akan menjadi lebih berat dengan adanya serangan nematoda (Vilsoni et al. 1979; Hayward 1991). Nematoda akan membuat luka pada akar dan rimpang yang memudahkan bakteri untuk menginfeksi tanaman. Menurut Mustika (1996) dan Nurawan et al. (1993), ada dua jenis nematoda yang sering ditemukan ada pada tanaman jahe yang juga terserang bakteri R. solanacearum di daerah Jawa Barat, Bengkulu, dan Sumatera Utara. Kedua jenis nematoda tersebut adalah Meloidogyne sp. dan Radopholus similis. Disamping nematoda, lalat rimpang (Mimegralla coeruleifrons) juga sering ditemukan pada tanaman jahe yang terserang R. solanacearum. Di India juga dilaporkan bahwa lalat rimpang sering berasosiasi dengan R solanacearum (Jacob 1980). Lalat rimpang tersebut diduga yang membuat luka pada tanaman jahe, sehingga membantu bakteri untuk menginfeksi dan masuk kedalam jaringan tanaman jahe.
2.6. Penanggulanan Penyakit Layu Bakteri
Penyakit layu bakteri sangat sulit dikendalikan. Hal ini disebabkan karena sifat-sifat ekobiologi dari R. solanacearum yang sangat komplek. Berbagai cara pengendalian telah dilakukan, namun hasilnya masih kurang memuaskan. Oleh karena itu cara yang paling bijaksana adalah mencegah timbulnya penyakit di lapangan (pengendalian secara preventif).
a.       Pencegahan penyakit
1.       Lahan bebas pathogen
Lahan bebas patogen merupakan persyaratan utama dalam pencegahan terjadinya penyakit layu. Hasil pengamatan di lapang dan analisa di laboratorium menunjukkan bahwa ada beberapa jenis lahan yang berpotensi bebas dari patogen diantaranya adalah lahan bekas sawah beririgasi teknis. R solanacearum bersifat aerobik, sehingga tidak tumbuh pada keadaan kondisi an aerob seperti di lahan sawah. Jahe membutuhkan kondisi lahan dengan aerasi yang baik, sehingga pada lahan bekas sawah yang akan ditanami jahe, tanah dibawah lapisan olahnya harus dipecah terlebih dahulu agar aerasinya menjadi lebih baik. Lahan lain yang mungkin bebas patogen adalah lahan yang belum pernah ditanami tanaman jahe atau lahan yang ditanami tanaman yang bukan inang R solanacearum dalam jangka waktu lama. Penanaman jahe secara berturut-turut pada lahan yang sama sebaiknya dihindari. Ada indikasi bahwa jahe yang ditanam pada lahan bekas tanaman sambiloto lebih sehat dan terhindar dari serangan layu bakteri. Namun fenomena ini masih perlu diteliti lebih lanjut (Supriadi et al. 2007). Rotasi tanaman juga dapat dilakukan untuk mengurangi populasi patogen di dalam tanah.
2.      Benih sehat
Untuk mencegah terjadinya penyakit layu bakteri, maka penanaman benih yang sehat sangat diperlukan. Sortasi benih harus dilakukan sejak awal pada waktu benih masih di lapangan dan sebelum ditanam. Sumber benih harus dari tanaman yang sehat. Rimpang yang digunakan untuk benih harus yang sudah cukup tua dan berwarna mengkilat.
Perlakuan benih dengan antibiotik atau pestisida dapat dilakukan untuk membunuh patogen yang mungkin terbawa pada permukaan benih rimpang jahe. Caranya dengan merendam rimpang jahe dalam larutan agrimicin 2,5 g/liter selama 2-3 jam yang selanjutnya dikering anginkan sebelum ditanam. Hasil penelitian Hartati dan Supriadi (1994) menunjukkan bahwa larutan antibiotik agrimisin hanya terserap pada lapisan kulit luar rimpang jahe dan membunuh patogen yang terbawa di permukaan kulit rimpang jahe saja. Menurut Asman dan Hadad (1989), perlakuan agrimisin dan abu sekam dapat menghambat gejala penyakit layu bakteri di lapang. Selain itu, sebelum ditanam benih jahe dapat dicelupkan pada larutan campuran pestisida.
Penyebaran penyakit layu bakteri pada tanaman jahe terutama disebabkan karena penggunaan benih yang telah terinfeksi. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan benih jahe perlu dilakukan. Untuk mendeteksi patogen dalam rimpang jahe yang akan digunakan sebagai benih dapat dilakukan dengan teknik ELISA. Hasil penelitian Supriadi et al. (1995) menunjukkan bahwa dari sampel benih jahe yang diamati yang dikoleksi dari beberapa daerah di Jawa Barat, 5% di antaranya sudah mengandung bakteri R. solanacearum.
3.      Tanaman tahan
Penanaman jenis jahe tahan merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit layu. Namun sampai saat ini belum ada jenis jahe yang tahan terhadap penyakit tersebut. Oleh karena itu penelitian dalam rangka mencari varietas jahe yang tahan sangat diperlukan. Sampai saat ini belum ada jenis jahe yang tahan terhadap penyakit layu bakteri. Jenis jahe putih besar yang biasa dibudidayakan di Indonesia sangat rentan terhadap R. solanacearum.
Pengujian klon-klon jahe yang ada di Indonesia terhadap R. solanacearum belum pernah dilakukan. Rostiana et al. (1991) telah mengoleksi 28 nomor jahe dari berbagai lokasi di Indonesia, namun tingkat ketahanan klon-klon jahe tersebut terhadap R. solanacearum belum diketahui. Indrasenan et al. (1982) melaporkan bahwa dari 30 klon jahe lokal di India yang diuji tidak ada yang tahan terhadap R. solanacearum.
Penelitian dalam rangka mencari varietas jahe yang tahan sudah dilakukan di Balittro yaitu dengan memperbanyak variasi genetik jahe dengan teknik radiasi yang hasilnya diperoleh beberapa nomor tanaman jahe yang lebih tahan terhadap inokulasi R. solanacearum dalam kondisi di rumah kaca (Ika Mariska komunikasi pribadi). Hasil penelitian secara in vitro telah diperoleh beberapa somaklon jahe yang tahan terhadap inokulasi R. solanacearum secara buatan di rumah kaca.
4.      Sanitasi
Sanitasi harus dilakukan secara ketat dari awal. Sanitasi tidak efektif apabila dilakukan pada saat serangan sudah meluas dan parah. Tanaman jahe yang terserang di lapang harus segera dicabut dan dimusnahkan dengan cara dibakar. Selanjutnya lubang bekas tanaman yang sakit disiram dengan antibiotik atau ditaburi dengan kapur.
5.      Pengelolaan lingkungan
Penyakit layu akan berkembang dengan baik pada kondisi kebun yang lembab dan panas, sehingga penyakit tersebut sering terjadi di daerah-daerah Tropis humid dan Sub tropis. Untuk mencegah timbulnya penyakit, maka pengelolaan lahan dan lingkungan perlu dilakukan untuk menjaga agar kondisi di kebun tidak terlalu lembab, misalnya dengan mengatur jarak tanam, menyiangi gulma di sekitar tanaman jahe, karena ada beberapa jenis gulma yang bisa menjadi inang dari R. solanacearum. Selain itu irigasi kebun harus diperhatikan agar lahan mempunyai drainase yang baik. Apabila ada areal yang terinfeksi sebaiknya dibuat selokan yang membatasi dengan areal yang masih sehat untuk mencegah penularan penyakit melalui akar, tanah, dan air. Untuk mencegah masuknya patogen ke daerah yang masih sehat, maka semua pekerjaan di kebun yang dilakukan baik oleh manusia maupun hewan sebaiknya dimulai dari daerah yang masih sehat selanjutnyta berjalan kearah daerah yang sudah terinfeksi. Demikian juga alat-alat pertanian yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dan setelah digunakan.


  1. Pengendalian penyakit di lapangan
Apabila pencegahan sudah dilakukan namun penyakit masih timbul di lapangan, maka perlu dilakukan pengendalian.
1.      Pengendalian terpadu
Pengendalian terpadu harus dilakukan sesuai dengan jenis tanamannya, jenis patogen, dan pengetahuan mengenai cara bertahan hidup dan penyebaran (ekobiologi) patogennya (Hayward 1986). Untuk tanaman yang menghasilkan umbi seperti kentang, penggunaan varietas tahan sangat diperlukan dengan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berperanan terhadap potensi inokulum, sisa-sisa tanaman sakit, populasi patogen di tanah, dan asosiasinya dengan tanaman inang alternatif, dan sebagainya.
2.      Pemakaian pestisida
Pengendalian penyakit bisa dilakukan misalnya dengan pestisida baik yang berupa pestisida kimia sintetik maupun pestisida alami. Namun pestisida kimia sintetik sangat mahal, sehingga pemakaian pestisida alami yang efektif, murah dan ramah lingkungan merupakan suatu alternatif yang perlu dianjurkan. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri merupakan bahan alami dari tanaman yang berpotensi untuk digunakan sebagai pestisida nabati. Hasil penelitian Hartati et al. (1993a) menunjukkan bahwa minyak cengkeh dan serai wangi dapat menghambat pertumbuhan R. solancearum secara in vitro. Hartati et al. (1993b) juga melaporkan bahwa pada uji in vitro minyak daun cengkeh lebih efektif terhadap R. solanacearum dibandingkan dengan komponennya eugenol dan serbuk cengkeh. Supriadi et al. (2008) melaporkan bahwa minyak kayu manis, cengkeh, serai wangi, serai dapur, nilam, jahe, kunyit, laos, temu lawak, dan adas dapat menghambat pertumbuhan bakteri R. solanacearum secara in vitro. Sementara hasil dari percobaan pot menunjukkan bahwa formula EC (6%) campuran dari minyak cengkeh dan kayu manis dapat menekan perkembangan penyakit layu pada jahe sampai 65 % pada umur tanaman 7 bulan. Sedang pengujian di lapangan menunjukkan bahwa formula EC 2 % minyak cengkeh dan kayu manis mampu menekan perkembangan penyakit dengan efikasi sebesar 35 % sampai pada umur tanaman 7 bulan (Hartati et al. 2009).
3.      Agensia hayati
Pupuk kandang yang diperkaya dengan mikroba dekomposer dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengendalikan penyakit layu bakteripada tanaman jahe. Menurut Hartati et al. (2009), pemberian pupuk hayati yang berupa pupuk kandang yang diperkaya dengan mikroba dekomposer (Bacillus pantotkenticus dan Trichoderma lactae) dapat mengurangi intensitas serangan penyakit sebesar 54% dibandingkan dengan pemberian pupuk kandang biasa.
















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, adapun kesimpulan dari paper ini adalah :
1.      Penyakit layu bakteri sering diketemukan pada pertanaman jahe disebabkan oleh bakteri R. solanacearum, dengan gejala penyakit yang mulai muncul pada saat tanaman berumur 3/4 bulan yang diawali dengan terjadinya daun-daun yang menguning dan menggulung serta batang yang sakit terlihat adanya garis-garis membujur yang berwarna hitam atau abu-abu yang merupakan jaringan yang rusak.
2.      Cara mendiiagnosis Penyakit layu bakteri pada tanaman jahe di lapangan yakni dengan cara memotong batang tanaman yang terinfeksi dan menekan penampang batangnya, sedangkan diagnosis di laboratorium dapat dideteksi baik dengan metode konvensional yaitu mengisolasi bakteri pada media.
3.      R. solanacearum merupakan patogen tular tanah. Bakteri tersebut dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama di dalam tanah. Penyebaran penyakit di dalam kebun dapat terjadi melalui tanah, akar, air, alat-alat pertanian, hewan, dan pekerja di lapangan. Sementara penyebaran jarak jauh dapat terjadi terutama melalui bibit rimpang yang telah terinfeksi. Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi kemampuan bertahan dari R. solanacearum. Kelembaban tanah yang tinggi dapat meningkatkan populasi bakteri. Sementara kandungan bahan organik tanah yang tinggi akan mengurangi populasinya demikian juga kondisi temperatur yang tinggi. Selain itu adanya tanaman inang pengganti sangat berpengaruh terhadap kemampuan bertahan hidup dari R. solanacearum.
4.      Pengendalian penyakit layu bakteri tanaman jahe, dapat dilakukan dengan
a.       Pencegahan penyakit :
-          Lahan bebas pathogen                                    - Benih sehat
-          Tanaman tahan                                                - Sanitasi
-          Pengelolaan lingkungan
b.      Pengendalian penyakit dilapangan
-          Pengendalian terpadu
-          Pemakaian pestisida
-          Agensia hayati
DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar