PAPER
EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT LAYU BAKTERI (Ralstonia
solanacearum) PADA TANAMAN JAHE
(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
ilmu penyakit tanaman)
Dosen
Pembimbing :
Ir.
Wayan Suniti, MS.

Oleh :
1. Dwi
Cahya Halim 1305105048
2. Isnaini 1305105053
3. Umu
Sa’adah 1305105054
4. Lilik
Handayani 1305105055
5. Erna
Ismawati 1305105072
PROGRAM
STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan
paper dengan judul “EPIDEMIOLOGI PENYAKIT
LAYU BAKTERI (Ralstonia solanacearum) PADA TANAMAN JAHE” untuk memenuhi
tugas dari mata kuliah Ilmu Penyakit Tumbuhan.
Semoga paper sederhana ini dapat dipahami dan
bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
ada kesalahan baik kata maupun penulisan yang kurang berkenan karena kami menyadari
sepenuhnya bahwa terdapat kekurangan dan jauh dari yang kami harapkan. Untuk
itu kami harapkan ada kritik, saran dan usulan demi perbaikan masa yang akan
datang, mengingat tidak ada suatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun
kami memohon kritik dan saran yang membangun demi masa depan.
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL……………………………………………………………………
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………..
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………………….
BAB
I PENDAHULUAN………………………………………………………………
A.
Latar
Belakang…………………………………………………………………..
B.
Rumusan
Masalah……………………………………………………………….
C.
Tujuan…………………………………………………………………………...
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………
2.1. Gejala Penyakit Layu
Bakteri………………………………………………………
2.2. Patogen dan Diagnosis Penyakit Layu
Bakteri…………………………………….
2.3. Tumbuhan Inang
Patogen………………………………………………………….
2.4. Epidemiologi Penyakit…………………..………………………………………….
2.5. Interaksi Dengan Nematoda Dan
Lalat Rimpang………………………………….
2.6. Penanggulanan Penyakit Layu
Bakteri…………………………………………….
BAB III
PENUTUP……………………………………………………………………
3.1.
Kesimpulan………………………………………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Ralstonia
solanacearum merupakan bakteri patogen tular
tanah yang menjadi faktor pembatas utama dalam produksi berbagai jenis tanaman
di dunia. Bakteri ini tersebar luas di daerah tropis, sub tropis, dan beberapa
daerah hangat lainnya. Spesies ini juga memiliki kisaran inang luas dan dapat
menginfeksi ratusan spesies pada banyak famili tanaman yang mempunyai arti
penting ekonomi (Olson, 2005 dalam Anonim, 2010). Berdasarkan kisaran inangnya,
R. solanacearum dikelompokkan menjadi 5 ras. Ras 1 menyerang tanaman
tembakau, tomat dan famili solanaceae lainnya, ras 2 menyerang tanaman pisang,
ras 3 menyerang tanaman kentang, ras 4 menyerang tanaman jahe, dan ras 5
menyerang tanaman mulberry (Danny dan Hayward, 2001 dalam Anonim, 2010).
R.
solanacearum adalah spesies yang sangat kompleks.
Hal ini disebabkan oleh variabilitas genetiknya yang luas dan kemampuannya
untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat, sehingga di alam dijumpai
berbagai strain R. solanacearum dengan ciri yang sangat beragam.
Ditinjau dari segi morfologi dan fisiologinya, R. solanacearum merupakan
bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan ukuran 0,5-0,7 x 1,5-2,5 μm,
berflagela, bersifat aerobik, tidak berkapsula, serta membentuk koloni
berlendir berwarna putih (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2003 dalam Anonim,
2010). Bakteri ini menginfeksi akar tanaman melalui luka yang terjadi secara
tidak langsung pada waktu proses pemindahan tanaman maupun luka akibat tusukan
nematoda akar, dan secara langsung masuk ke dalam bulu akar/akar yang sangat
muda dengan melarut dinding sel. Infeksi secara langsung lebih banyak terjadi
jika populasi bakteri di tanah terdapat dalam jumlah yang tinggi (Semangun,
1988 dalam Anonim 2010). R. solanacearum merupakan patogen tular tanah
dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan
tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996).
Gejala
awal yang ditimbulkan pada tanaman yang terserang bakteri ini adalah tanaman
mulai layu. Kemudian menjalar ke daun bagian bawah. Gejala yang lebih lanjut :
seluruh tanaman layu, daum menguning sampai coklat kehitam-hitaman, dan
akhirnya tanaman mati. Serangan pada umbi menimbulkan gejala dari luar tampak
bercak-bercak kehitam-hitaman, terdapat lelehan putih keruh (massa bakteri)
yang keluar dari mata tunas atau ujung stolon. Adanya daun muda pada pucuk dan
daun tua tanaman akan menjadi layu, daun bagian bawah menguning merupakan ciri
khas gejala penyakit layu bakteri (Kurniawan, 2010).
B. Rumusan
masalah
1. Bagaimana
gejala pada penyakit layu bakteri?
2. Bagaimana
diagnosis penyakit layu bakteri ?
3. Bagaimana
epidemiologi penyakit layu bakteri?
4. Bagaimana
pencegahan penyakit layu bakteri pada tanaman jahe ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui gejala penyakit layu bakteri pada tanaman jahe
2. Untuk
mengetahui diagnosis penyakit layu bakteri
3. Untuk
mengetahui epidemiologi penyakit layu bakteri
4. Untuk
mengetahui bagaimana pencegahan penyakit layu bakteri pada tanaman jahe.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Gejala Penyakit Layu Bakteri
Penyakit layu bakteri sering diketemukan pada
pertanaman jahe terutama di daerah tropis dan sub tropis yang beriklim lembab.
Di Indonesia serangan penyakit tersebut dapat menyebabkan kehilangan hasil
rimpang jahe sampai 90%. Oleh karena itu penyakit layu bakteri merupakan salah
satu kendala utama dalam budidaya tanaman jahe.
Pada umumnya gejala penyakit mulai muncul pada saat
tanaman berumur 3 atau 4 bulan. Gejala penyakit diawali dengan terjadinya
daun-daun yang menguning dan menggulung. Gejala menguning pada daun tersebut
pada umumnya dimulai dari bagian tepi dan berkembang keseluruh helaian daun
(Gambar 1A). Selanjutnya seluruh bagian daun menjadi kuning, layu, kering, dan
tanaman menjadi mati. Pada bagian pangkal batang yang sakit terlihat gejala
busuk kebasahan ”water soaked”. Pada batang yang sakit sering terlihat adanya
garis-garis membujur yang berwarna hitam atau abu-abu yang merupakan jaringan
yang rusak. Tanaman yang sakit batangnya akan mudah dicabut dan dilepas dari
bagian rimpangnya. Apabila batang ditekan, dari penampang melintangnya akan
terlihat adanya eksudat bakteri yang keluar yang berwarna putih susu yang
baunya khas sangat menyengat
2.2.
Pathogen dan Diagnosis Penyakit
Penyebab penyakit layu pada tanaman jahe adalah
bakteri R. solanacearum. Menurut Hayward (1986), R. solanacearum yang menyerang
tanaman jahe tergolong dalam biovar 3 atau 4. Namun yang menyerang jahe di
Malaysia tergolong dalam biovar 1 (Abdullah, 1982) Menurut Supriadi (1994), R.
solanacearum yang menyerang tanaman jahe di Indoneisa termasuk dalam biovar 3
dan ras 4. Di Australia, R. solanacearum biovar 4 pada umumnya menyebabkan
kerusakan yang parah dan berkembang sangat cepat, sedangkan biovar 3 umumnya
menyebabkan gejala kerusakan lebih ringan. Menurut Hayward et al. (1967) dan
Pegg and Moffett (1971), R. solanacearum biovar 3 jarang menyerang tanaman
jahe.
Di lapangan, penyakit layu bakteri mudah diketahui
dengan cara memotong batang tanaman yang terinfeksi dan menekan penampang
batangnya. Adanya eksudat bakteri berupa cairan yang berwarna putih susu dan
berbau khas yang keluar dari permukaan potongan batang menandakan tanaman sudah
terserang layu bakteri. Selain itu, potongan batang juga dapat dimasukkan ke
dalam air di dalam gelas transparan. Adanya aliran eksudat bakteri yang keluar dari
penampang melintang batang menandakan tanaman sudah terinfeksi layu bakteri. Di
laboratorium penyakit layu bakteri dapat dideteksi baik dengan metode
konvensional yaitu mengisolasi bakteri pada media agar, maupun secara serologi
dengan teknik ELISA menggunakan antiserum khusus (Robinson 1993). Metode ini
dapat mendeteksi R solanacearum dalam ekstrak tanaman dan tanah. Populasi
bakteri terendah yang dapat dideteksi dengan metode ELISA yaitu 10 4 sel/ ml
ekstrak tanaman atau tanah. Cara ini lebih praktis dibanding dengan cara
konvensional, karena metoda ELISA dapat menguji banyak sampel dalam waktu yang
lebih singkat. Deteksi patogen juga dapat dilakukan secara molekuler. Cara
tersebut lebih cepat dan akurat, namun biayanya cukup mahal dan memerlukan tenaga
ahli yang berpengalaman.
2.3. Tumbuhan Inang Patogen
R. solanacearum yang menyerang jahe mempunyai kisaran
inang yang relatif terbatas. Hasil pengujian inokulasi secara buatan yang
dilakukan di Filipina membuktikan bahwa isolat R. solanacearum asal jahe
virulen terhadap tanaman kentang dan terung, namun lemah virulensinya terhadap
tomat. Di Malaysia, isolat R. solanacearum asal jahe kurang virulen terhadap
tanaman tomat, tembakau, dan kacang tanah. Sementara isolat R. solanacearum
asal tomat menimbulkan gejala khas pada tanaman tomat, tembakau, kacang tanah,
dan jahe. Hasil penelitian di rumah kaca dan pengamatan di lapangan menunjukkan
bahwa R. solanacearum asal jahe di Indonesia mempunyai beberapa inang, di
antaranya adalah temu mangga (Curcuma mangga), temu putih (Z. cassumunar),
tomat, terung, dan beberapa jenis gulma seperti babadotan (Ageratum sp.),
meniran (Phylanthus niruri), Commelina sp., nanangkaan (Euphobia hirta),
Spigelia anthelmia, Erechtites sp., ceplukan (Physalis angulata) dan Emmilia sp.
Gulma krokot (Portulaca oleraceae) juga merupakan inang dari R. solanacearum
namun tanaman yang terinfeksi kadang tidak menunjukkan gejala layu. Sementara
isolat R. solanacearum asal jahe tidak virulen terhadap kacang tanah, cabe
kriting, pisang, dan nilam.
2.4. Epidemiologi Penyakit
Penyakit
layu bakteri pertama kali dilaporkan oleh Orian pada tahun 1953 di Mauritania.
Selanjutnya penyakit tersebut juga ditemukan di beberapa Negara di Asia,
Australia, dan Afrika seperti di China, Filipina, Hawai, India, Indonesia,
Malaysia, dan Thailand (Hayward 1986).
Di
Indonesia penyakit layu pertamakali dilaporkan pada tahun 1971 di daerah
Kuningan, Jawa Barat. Selanjutnya penyakit juga dilaporkan ada di daerah lain
di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jambi, Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Utara.
R.
solanacearum merupakan patogen tular tanah. Bakteri tersebut dapat bertahan
hidup dalam jangka waktu yang lama di dalam tanah. Penyebaran penyakit di dalam
kebun dapat terjadi melalui tanah, akar, air, alat-alat pertanian, hewan, dan
pekerja di lapangan. Sementara penyebaran jarak jauh dapat terjadi terutama
melalui bibit rimpang yang telah terinfeksi. Kondisi lingkungan sangat
mempengaruhi kemampuan bertahan dari R. solanacearum. Kelembaban tanah yang
tinggi dapat meningkatkan populasi bakteri. Sementara kandungan bahan organik
tanah yang tinggi akan mengurangi populasinya demikian juga kondisi temperatur
yang tinggi. Selain itu adanya tanaman inang pengganti sangat berpengaruh
terhadap kemampuan bertahan hidup dari R. solanacearum.
2.5. Interaksi Dengan Nematoda Dan
Lalat Rimpang
R. solanacearum sering berasosiasi dengan nematoda.
Serangan penyakit layu akan menjadi lebih berat dengan adanya serangan nematoda
(Vilsoni et al. 1979; Hayward 1991). Nematoda akan membuat luka pada akar dan
rimpang yang memudahkan bakteri untuk menginfeksi tanaman. Menurut Mustika
(1996) dan Nurawan et al. (1993), ada dua jenis nematoda yang sering ditemukan
ada pada tanaman jahe yang juga terserang bakteri R. solanacearum di daerah
Jawa Barat, Bengkulu, dan Sumatera Utara. Kedua jenis nematoda tersebut adalah
Meloidogyne sp. dan Radopholus similis. Disamping nematoda, lalat rimpang
(Mimegralla coeruleifrons) juga sering ditemukan pada tanaman jahe yang
terserang R. solanacearum. Di India juga dilaporkan bahwa lalat rimpang sering
berasosiasi dengan R solanacearum (Jacob 1980). Lalat rimpang tersebut diduga
yang membuat luka pada tanaman jahe, sehingga membantu bakteri untuk
menginfeksi dan masuk kedalam jaringan tanaman jahe.
2.6. Penanggulanan Penyakit Layu
Bakteri
Penyakit
layu bakteri sangat sulit dikendalikan. Hal ini disebabkan karena sifat-sifat
ekobiologi dari R. solanacearum yang sangat komplek. Berbagai cara pengendalian
telah dilakukan, namun hasilnya masih kurang memuaskan. Oleh karena itu cara yang
paling bijaksana adalah mencegah timbulnya penyakit di lapangan (pengendalian
secara preventif).
a. Pencegahan
penyakit
1. Lahan bebas pathogen
Lahan
bebas patogen merupakan persyaratan utama dalam pencegahan terjadinya penyakit
layu. Hasil pengamatan di lapang dan analisa di laboratorium menunjukkan bahwa
ada beberapa jenis lahan yang berpotensi bebas dari patogen diantaranya adalah
lahan bekas sawah beririgasi teknis. R solanacearum bersifat aerobik, sehingga
tidak tumbuh pada keadaan kondisi an aerob seperti di lahan sawah. Jahe
membutuhkan kondisi lahan dengan aerasi yang baik, sehingga pada lahan bekas
sawah yang akan ditanami jahe, tanah dibawah lapisan olahnya harus dipecah
terlebih dahulu agar aerasinya menjadi lebih baik. Lahan lain yang mungkin bebas
patogen adalah lahan yang belum pernah ditanami tanaman jahe atau lahan yang
ditanami tanaman yang bukan inang R solanacearum dalam jangka waktu lama.
Penanaman jahe secara berturut-turut pada lahan yang sama sebaiknya dihindari.
Ada indikasi bahwa jahe yang ditanam pada lahan bekas tanaman sambiloto lebih
sehat dan terhindar dari serangan layu bakteri. Namun fenomena ini masih perlu
diteliti lebih lanjut (Supriadi et al. 2007). Rotasi tanaman juga dapat
dilakukan untuk mengurangi populasi patogen di dalam tanah.
2. Benih
sehat
Untuk
mencegah terjadinya penyakit layu bakteri, maka penanaman benih yang sehat
sangat diperlukan. Sortasi benih harus dilakukan sejak awal pada waktu benih
masih di lapangan dan sebelum ditanam. Sumber benih harus dari tanaman yang sehat.
Rimpang yang digunakan untuk benih harus yang sudah cukup tua dan berwarna
mengkilat.
Perlakuan
benih dengan antibiotik atau pestisida dapat dilakukan untuk membunuh patogen
yang mungkin terbawa pada permukaan benih rimpang jahe. Caranya dengan merendam
rimpang jahe dalam larutan agrimicin 2,5 g/liter selama 2-3 jam yang
selanjutnya dikering anginkan sebelum ditanam. Hasil penelitian Hartati dan
Supriadi (1994) menunjukkan bahwa larutan antibiotik agrimisin hanya terserap
pada lapisan kulit luar rimpang jahe dan membunuh patogen yang terbawa di
permukaan kulit rimpang jahe saja. Menurut Asman dan Hadad (1989), perlakuan
agrimisin dan abu sekam dapat menghambat gejala penyakit layu bakteri di
lapang. Selain itu, sebelum ditanam benih jahe dapat dicelupkan pada larutan
campuran pestisida.
Penyebaran penyakit layu bakteri pada tanaman jahe
terutama disebabkan karena penggunaan benih yang telah terinfeksi. Oleh karena
itu pemeriksaan kesehatan benih jahe perlu dilakukan. Untuk mendeteksi patogen
dalam rimpang jahe yang akan digunakan sebagai benih dapat dilakukan dengan
teknik ELISA. Hasil penelitian Supriadi et al. (1995) menunjukkan bahwa dari
sampel benih jahe yang diamati yang dikoleksi dari beberapa daerah di Jawa
Barat, 5% di antaranya sudah mengandung bakteri R. solanacearum.
3. Tanaman
tahan
Penanaman
jenis jahe tahan merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan
penyakit layu. Namun sampai saat ini belum ada jenis jahe yang tahan terhadap
penyakit tersebut. Oleh karena itu penelitian dalam rangka mencari varietas
jahe yang tahan sangat diperlukan. Sampai saat ini belum ada jenis jahe yang
tahan terhadap penyakit layu bakteri. Jenis jahe putih besar yang biasa
dibudidayakan di Indonesia sangat rentan terhadap R. solanacearum.
Pengujian
klon-klon jahe yang ada di Indonesia terhadap R. solanacearum belum pernah
dilakukan. Rostiana et al. (1991) telah mengoleksi 28 nomor jahe dari berbagai
lokasi di Indonesia, namun tingkat ketahanan klon-klon jahe tersebut terhadap
R. solanacearum belum diketahui. Indrasenan et al. (1982) melaporkan bahwa dari
30 klon jahe lokal di India yang diuji tidak ada yang tahan terhadap R.
solanacearum.
Penelitian
dalam rangka mencari varietas jahe yang tahan sudah dilakukan di Balittro yaitu
dengan memperbanyak variasi genetik jahe dengan teknik radiasi yang hasilnya
diperoleh beberapa nomor tanaman jahe yang lebih tahan terhadap inokulasi R.
solanacearum dalam kondisi di rumah kaca (Ika Mariska komunikasi pribadi).
Hasil penelitian secara in vitro telah diperoleh beberapa somaklon jahe yang
tahan terhadap inokulasi R. solanacearum secara buatan di rumah kaca.
4. Sanitasi
Sanitasi
harus dilakukan secara ketat dari awal. Sanitasi tidak efektif apabila
dilakukan pada saat serangan sudah meluas dan parah. Tanaman jahe yang terserang
di lapang harus segera dicabut dan dimusnahkan dengan cara dibakar. Selanjutnya
lubang bekas tanaman yang sakit disiram dengan antibiotik atau ditaburi dengan
kapur.
5. Pengelolaan
lingkungan
Penyakit
layu akan berkembang dengan baik pada kondisi kebun yang lembab dan panas,
sehingga penyakit tersebut sering terjadi di daerah-daerah Tropis humid dan Sub
tropis. Untuk mencegah timbulnya penyakit, maka pengelolaan lahan dan
lingkungan perlu dilakukan untuk menjaga agar kondisi di kebun tidak terlalu
lembab, misalnya dengan mengatur jarak tanam, menyiangi gulma di sekitar
tanaman jahe, karena ada beberapa jenis gulma yang bisa menjadi inang dari R.
solanacearum. Selain itu irigasi kebun harus diperhatikan agar lahan mempunyai
drainase yang baik. Apabila ada areal yang terinfeksi sebaiknya dibuat selokan
yang membatasi dengan areal yang masih sehat untuk mencegah penularan penyakit
melalui akar, tanah, dan air. Untuk mencegah masuknya patogen ke daerah yang
masih sehat, maka semua pekerjaan di kebun yang dilakukan baik oleh manusia
maupun hewan sebaiknya dimulai dari daerah yang masih sehat selanjutnyta
berjalan kearah daerah yang sudah terinfeksi. Demikian juga alat-alat pertanian
yang akan digunakan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dan setelah
digunakan.
- Pengendalian penyakit di lapangan
Apabila
pencegahan sudah dilakukan namun penyakit masih timbul di lapangan, maka perlu
dilakukan pengendalian.
1. Pengendalian
terpadu
Pengendalian
terpadu harus dilakukan sesuai dengan jenis tanamannya, jenis patogen, dan
pengetahuan mengenai cara bertahan hidup dan penyebaran (ekobiologi) patogennya
(Hayward 1986). Untuk tanaman yang menghasilkan umbi seperti kentang,
penggunaan varietas tahan sangat diperlukan dengan pengetahuan mengenai
faktor-faktor yang berperanan terhadap potensi inokulum, sisa-sisa tanaman
sakit, populasi patogen di tanah, dan asosiasinya dengan tanaman inang
alternatif, dan sebagainya.
2. Pemakaian
pestisida
Pengendalian penyakit bisa dilakukan misalnya dengan
pestisida baik yang berupa pestisida kimia sintetik maupun pestisida alami.
Namun pestisida kimia sintetik sangat mahal, sehingga pemakaian pestisida alami
yang efektif, murah dan ramah lingkungan merupakan suatu alternatif yang perlu
dianjurkan. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri merupakan
bahan alami dari tanaman yang berpotensi untuk digunakan sebagai pestisida
nabati. Hasil penelitian Hartati et al. (1993a) menunjukkan bahwa minyak
cengkeh dan serai wangi dapat menghambat pertumbuhan R. solancearum secara in
vitro. Hartati et al. (1993b) juga melaporkan bahwa pada uji in vitro minyak
daun cengkeh lebih efektif terhadap R. solanacearum dibandingkan dengan
komponennya eugenol dan serbuk cengkeh. Supriadi et al. (2008) melaporkan bahwa
minyak kayu manis, cengkeh, serai wangi, serai dapur, nilam, jahe, kunyit,
laos, temu lawak, dan adas dapat menghambat pertumbuhan bakteri R. solanacearum
secara in vitro. Sementara hasil dari percobaan pot menunjukkan bahwa formula
EC (6%) campuran dari minyak cengkeh dan kayu manis dapat menekan perkembangan
penyakit layu pada jahe sampai 65 % pada umur tanaman 7 bulan. Sedang pengujian
di lapangan menunjukkan bahwa formula EC 2 % minyak cengkeh dan kayu manis
mampu menekan perkembangan penyakit dengan efikasi sebesar 35 % sampai pada
umur tanaman 7 bulan (Hartati et al. 2009).
3. Agensia
hayati
Pupuk kandang yang diperkaya dengan mikroba dekomposer
dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengendalikan penyakit layu
bakteripada tanaman jahe. Menurut Hartati et al. (2009), pemberian pupuk hayati
yang berupa pupuk kandang yang diperkaya dengan mikroba dekomposer (Bacillus
pantotkenticus dan Trichoderma lactae) dapat mengurangi intensitas serangan
penyakit sebesar 54% dibandingkan dengan pemberian pupuk kandang biasa.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan diatas, adapun
kesimpulan dari paper ini adalah :
1. Penyakit
layu bakteri sering diketemukan pada pertanaman jahe disebabkan oleh bakteri R.
solanacearum, dengan gejala penyakit yang mulai muncul pada saat tanaman
berumur 3/4 bulan yang diawali dengan terjadinya daun-daun yang menguning dan
menggulung serta batang yang sakit terlihat adanya garis-garis membujur yang
berwarna hitam atau abu-abu yang merupakan jaringan yang rusak.
2. Cara
mendiiagnosis Penyakit layu bakteri pada tanaman jahe di lapangan yakni dengan
cara memotong batang tanaman yang terinfeksi dan menekan penampang batangnya,
sedangkan diagnosis di laboratorium dapat dideteksi baik dengan metode
konvensional yaitu mengisolasi bakteri pada media.
3. R.
solanacearum merupakan patogen tular tanah. Bakteri tersebut dapat bertahan
hidup dalam jangka waktu yang lama di dalam tanah. Penyebaran penyakit di dalam
kebun dapat terjadi melalui tanah, akar, air, alat-alat pertanian, hewan, dan
pekerja di lapangan. Sementara penyebaran jarak jauh dapat terjadi terutama
melalui bibit rimpang yang telah terinfeksi. Kondisi lingkungan sangat
mempengaruhi kemampuan bertahan dari R. solanacearum. Kelembaban tanah yang
tinggi dapat meningkatkan populasi bakteri. Sementara kandungan bahan organik
tanah yang tinggi akan mengurangi populasinya demikian juga kondisi temperatur
yang tinggi. Selain itu adanya tanaman inang pengganti sangat berpengaruh
terhadap kemampuan bertahan hidup dari R. solanacearum.
4. Pengendalian
penyakit layu bakteri tanaman jahe, dapat dilakukan dengan
a. Pencegahan
penyakit :
-
Lahan bebas pathogen - Benih
sehat
-
Tanaman tahan -
Sanitasi
-
Pengelolaan lingkungan
b. Pengendalian
penyakit dilapangan
-
Pengendalian terpadu
-
Pemakaian pestisida
-
Agensia hayati
DAFTAR
PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar